Bismillaah
Memasuki bulan Dzulqa'dah 1447 H , jadi teringat kembali masa persiapan berangkat haji saya dan suami di tahun 2025.
Haji di tahun 2025 adalah tahun pertama pengelolaan haji yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Chaos ? Ya , pastinya ada beberapa hal yang membuat jama'ah mengalami ketidakjelasan informasi dan ketidakpastian.
Apa yang dirasakan saat itu? Cemas ada , nangis ada, kesal ada tapi alhamdulillaahnya buat saya pribadi ga berlarut, bahkan boleh dibilang dalam hitungan jam di beberapa hari sebelum berangkat.
Kuncinya apa? Serahkan kembali pada Yang Maha Pengatur , Yang Kuasa atas semua yang hadir di kehidupan manusia.
Hasilnya ? Kami menjalani perjalanan haji dengan hati lapang, bahagia, optimis.
Buat saya yang terbiasa merencanakan segala sesuatu termasuk dalam melakukan trip, persiapan haji pun termasuk yang sudah direncanakan sejak berbulan-bulan bahkan mungkin 2-3 tahun sebelumnya. Kok segitunya banget?
Alasannya ...
Pertama : Ibadah haji adalah rukun Islam terakhir yang menurut pemahaman saya sebagai puncak ibadah seorang muslim.
Kalau dianaloginya tracking ke gunung, ibadah haji itu buat saya seakan-akan perjalanan ke puncak gunung.
Lelah? Pasti.
Perlu bekal ? Tentu.
Perlu kesiapan fisik mental spiritual ? Ini yang penting.
Tapi setelah sampai di puncak , akan ada kenikmatan yang luar biasa yang kita rasakan.
Kedua : Ibadah haji menjadi momen berjeda yang berharga. Setelah puluhan tahun menjalani rutinitas kerja , hiruk pikuk aktivitas harian, bisa sampai di satu momen yang menyediakan ruang terbaik untuk self healing, self love dan self care bersama Rabb nya, buat saya adalah berkah yang luar biasa.
Ketiga : Ibadah haji nunggunya lama yee 😆. Masa iya pas menjalani cuma gitu2 aja, atau cuma ngikut2 aja. Jadi ga special dong nantinya, pikir saya.
Memangnya apa saja yang disiapkan sampai bertahun-tahun sebelumnya ?
Sabar ... Ceritanya bersambung yaa ☺️
Bogor, 5 Dulqa'dah 1447 H (versi Kementrian Agama RI) alias 23 April 2026

Komentar