Langsung ke konten utama

Nihon Trip - 11 : Hiroshima

Enam Desember 2022

Sebetulnya tidak ada rencana ke Kota Hiroshima dalam daftar kunjungan ke Negeri Sakura, karena lokasinya yang berada di selatan Pulau Honsu ini jaraknya sangat jauh dari Tokyo.

Kesempatan tidak datang dua kali kaan. Sepulang dari trip seputar Kyoto, sebelum tidur saya coba scanning apa saja yang bisa kita kunjungi dalam waktu yang singkat.

Kami check out jam lebih pagi dari biasanya karena perjalan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sesampai di mesin pemesanan seat, ternyata kereta shinkansen ekpres di pagi hari sudah penuh. Akhirnya kami booking seat kereta yang tersedia, yaitu non ekspres. Belum terbayang berapa titik transit stasiun yang akan kami lewati.

Kereta menuju Hiroshima ternyata tidak tersedia yang langsung dari Kyoto, tetapi seharusnya naik dari stasiun Shin Osaka 🤣. Maklum rencana mendadak akhirnya kami harus kembali lagi ke Shin Osaka Station 🙈. Jadi kami memesan seat shinkansen dari Kyoto Station  dengan transit di Shin Osaka untuk naik shinkansen ke arah Hiroshima. Sesampainya di Shin Osaka, ternyata lokasi peron kereta menuju Hiroshima berbeda dengan lokasi kami turun, dan karena waktu mepet kami terburu untuk turun naik tangga supaya bisa menaiki kereta yang sesuai dengan jadwal yang seatnya sudah kami booking. 

Ada pembelajaran nih dari kondisi ini. Lain kali untuk memesan tiket shinkansen yang harus transit, lebih baik memesan tiket per rute saja, jangan memilih yang sudah paket transit karena rentang waktu saat transit tidak terlalu lama, apalagi belum terinformasi lokasi peronnya. Misal pilih seat untuk jadwal kereta dari Kyoto ke Shin Osaka, kemudian pilih lagi jadwal kereta lain dari Shin Osaka ke Hiroshima dengan rentang waktu yang kira tidak membuat kita harus berlari-lari pindah peron.

Ternyata perjalanan memakan waktu lama sodara2!, karena shinkansen lokal berhenti di setiap stasiun yang memang diperuntukkan untuk pemberhentian shinkansen. Waktu yang ditempuh mencapai hampir 4 jam 🙈. Untungnya sepanjang perjalanan kami bisa menikmati berbagai pemandangan kota besar yang dilewati, seperti  Kobe, Okayama.

Akibat prediksi waktu yang tidak sesuai rencana, niat untuk makan siang dengan menu okonomiyaki halal yang merupakan kuliner khas Hiroshima pun gagal. Awalnya masih optimis untuk bisa mencapai lokasi kedai "Origami" yang menyediakan okonomiyaki halal, karena waktu baru menunjukan pukul 13 lewat sedikit. 

Setelah mencari lokasi coin locker untuk menyimpan koper dan tas, kami juga masih harus antri untuk menggunakan taksi. Selain itu, kami juga perlu waktu untuk menunjukan lokasi kuliner, pasalnya ada gedung lain yang juga bernama Origami ke arah yang sama 😁. Taksi tidak bisa masuk ke jalan tempat kedai berada, jadi kami harus berjalan kaki sedikit. Sesampai di sana waktu sudah  menunjukkan pukul lewat sedikit dari pukul 13.30 , tetapi kedai sudah tertutup rapat 😭. Memang sih di dalam taksi sudah sempat googling untuk cek waktu tutup kedai. Seharusnya pukul 14.00 tetapi ada keterangan "Closes soon" ....huaa ternyata beneran tutup. 

Target lokasi makan siang pun akhirnya berubah ke lokasi kedai masakan India, info di google sih muslim friendly. Bismillaah karena jadwal tutup masih jam 15 kami pun berjalan lagi ke arah kedai "Kanak" yang lokasinya tidak jauh dengan lokasi wisata yang kami tuju.

Cuaca siang itu sangat cerah walau udara terasa dingin (12 derajat). Prakiraan cuaca menunjukkan kalau menjelang sore cuaca bakal mendung. 

Setelah menikmati late lunch, kami pun berjalan sedikit menuju area bersejarah tempat bom menghantam Hiroshima di masa perang dunia kedua. 

Lokasinya dikenal dengan nama Peace Memorial Hiroshima, terdiri dari taman yang sangat luas dan terdapat beberapa monumen peringatan. Masih terlihat  reruntuhan gedung yang sepertinya sengaja dilestarikan. Ada juga gedung museum di sisi lain. Layaknya lokasi musem atau tempat bersejarah, lokasi ini ramai dikunjungi oleh rombongan pelajar dari beberapa sekolah.

Karena kami belum melaksanakan shalat, kami tidak berlama-lama berada di area ini. Setelah mengabadikan diri di beberapa spot , kami lanjutkan berjalan kaki untuk menuju halte bus yang mengarah ke lokasi mushala Kasumi. Cukup lama waktu menunggu bus rute ini. Cuaca mendung angin dingin membuat kita berusaha terus bergerak agar terasa hangat. Selain itu, jaket tebal, pakaian yang  kami gunakan sudah dilengkapi dengan topi /kupluk dan sarung tangan. Lumayan bisa mengurangi udara dingin. Sambil menunggu bus kami menikmati trem yang hilir mudik di jalan, sambil mbatin, sempat ga ya naek trem.

Setelah melaksanakan shalat, kami pun harus berjalan lagi untuk menaiki bus tujuan Hiroshima Station. Tetapi karena salah turun, akhirnya kami harus mengganti moda kereta trem untuk sampai ke Hiroshima Station. Baguslah gara2 hal ini akhirnya kami bisa merasakan naik kereta trem walau jarak dekat 🤣.

Sesampai di bagian depan stasiun, ternyata lokasi ini sedang dalam proses renovasi. Patutlah sepanjang jalan menggunakan bus tadi kami merasa tidak melihat bangunan yang menyerupai stasiun maupun tanda-tanda yang menunjukkan tulisan Hiroshima Station.

Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Kami pun segera mencari mesin untuk booking seat shinkansen menuju Tokyo. Kami pun memastikan shinkansen yang digunakan adalah yang berjenis ekspres. Waktu tempuh shinkansen sekitar 4 jam. Belajar dari pengalaman sebelumnya karena kereta menuju Tokyo hanya tersedia di Stasiun Shin Kobe dan Shin Osaka, kami memesan seat kereta sesuai tahapan rute. Karena kami sudah pernah menyambangi stasiun Shin Osaka, kali ini kami memilih stasiun Shin Kobe untuk lokasi transit.

Perbekalan makanan sudah menipis, waktu tempuh juga lama, dan mungkin juga karena lelah berjalan kaki seharian, kami pun tertidur lelap sepanjang perjalanan. 

Sekitar 1 jam lagi jadwal ketibaan di Stasiun Tokyo, saya menghubungi adek untuk menyampaikan jadwal ketibaan dan menyampaikan kalo kami belum makan malam 🤣. Karena jarak stasiun Tokyo yang cukup jauh dari rumah adek, adek menyarankan kami turun di stasiun yang lebih dekat yaitu Shinagawa Station. Wah tempat baru lagi nih.

Sekitar hampir pukul 22 malam kami tiba di Stasiun Shinagawa. Ternyata suasan di stasiun di jam tersebut masih cukup ramai. Kami pun berjalan  keluar menuruni gedung stasiun, dari jauh terlihat tempat antrian taksi yang bersiap mengangkut penumpang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah. Sempat nyasar alias berputar-putar di area dekat rumah karena supir taksi yang salah menandai titik tujuan di aplikasi yang tersedia di dashboard mobil.

Alhamdulillaah.. akhirnya sekitar pukul 22. 30an taksi tiba di depan apato. Sesampai di rumah kami langsung ishoma, menyantap hidangan yang sudah tersedia, mandi, shalat dan melanjutkan lagi tidur, untuk persiapan perjalanan besok hari ke area Odaiba 😁.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR ISLAM DI USIA SETENGAH ABAD #3 : MENCETAK GENERASI PERADABAN DARI RUMAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim Kajian Halaqah Cinta Ustadz Ransi Al Indragiri Peradaban dimulai dari rumah, sesuai firman Allah di dalam Q.S. Al Jumuah ayat 2, bahwa Allah mengutus Rasul yang ummi (tidak bisa baca dan tidak bisa menulis) , ummi  juga berarti bahwa Rasul menyebarkan ajarannya di Madinah.  Karena masyarakat Madinah saat itu merupakan masyarakat yang tertinggal dibanding daerah lain seperti Mekkah, Yaman dll, dan tidak memiliki peradaban. Dan setelah Rasulullaah menyebarkan Islam di Madinah, akhirnya Madinah menjadi kota yang diperhitungkan, maju peradabannya ,dan jadi pusat peradaban Islam. Apa yang dilakukan Rasulullah di Madinah ? 1. Membangun Masjid sebagai pusat Ibadah,  pusat pendidikan, tempat silaturahim 2. Mempersaudarakan antara Kaum Ashar dengan Kaum Muhajirin 3. Membuat perjanjian dengan non muslim  Muncul hadits di Madinah : " Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam be...

Nihon Trip - 4 : Disiplin dan Tepat Waktu

  Jepang sejak lama dikenal akan budaya disiplin dan tepat waktu dalam segala hal. Hal ini sangat kami rasakan saat berada di sana, dan buat saya yang menjunjung tinggi kedisiplinan, hal ini menjadi hal yang menyenangkan untuk dinikmati karena merasakan kemudahan sebagai hasil dari kebiasaan tersebut. Ketepatan waktu bukan hanya pada  jadwal bis, kereta, shinkansen, tetapi juga termasuk di dalamnya jadwal buka tutup toko dan resto 😃. Untuk jadwal bis biasanya tersedia di standing board tempat kita naik, atau di papan informasi untuk halte  yang ada tempat berteduh (biasa dilengkapi kursi).  Antrian panjang menjadi pemandangan umum yang terlihat di sana. Antrian naik bis, naik kereta, naik taksi, pembelian atau isi ulang kartu kereta, pembayaran di kasir, penggunaan vending machine, kedai makanan (biasanya antrian panjang ditemukan saat pembukaan gerai produk makanan baru 😅)  bahkan saat pembelian popcorn semua dilakukan dengan tertib. Mungkin karena sudah terb...

Nihon Trip - 12 : Oleh-oleh

Membeli buah tangan itu buat saya adalah berbagi kebahagiaan yang saya rasakan saat berkunjung ke suatu tempat. Begitu juga saat berkunjung ke negeri sakura. Buat yang mau beli cemilan2 dalam jumlah banyak disarankan belanja di toko grosiran seperti Don Quijote yang cabangnya cukup banyak dan ada di beberapa kota. Kami mendatangi salah satu yang terbesar di area Shibuya : Mega Don Quijote. Di lokasi ini dijual berbagai macam barang. Namun untuk souvenir seperti magnet tempelan kulkas, kipas, dompet , sapu tangan harganya menurut saya lebih mahal dari barang yang dijual online dan jenisnya tidak banyak. Bagi turis yang berbelanja di atas 5500 yen akan dikenakan tax free asal menunjukan paspor untuk di scan di mesin yang ada di kasir. Harga barang yang tertera di rak sudah termasuk pajak. Lokasi pembayaran khusus tax free di Mega Don Quijote berada di lantai paling atas. Souvenir made in Japan asli harga memang mahal, tetapi kualitasnya tidak diragukan. Awalnya penasara melihat souvenir...