Langsung ke konten utama

Nihon Trip - 8 : Nagoya

Tiga Desember 2022

Trip pertama yang kami tuju menggunakan shinkansen adalah Nagoya. Hari itu adalah hari Sabtu, walau sudah diinfokan kalau stasiun Tokyo di weekend akan ramai luar biasa, tetap saja saya sempat kleyengan melihat sebanyak itu orang yang berseliweran di sana, padahal saat itu belum musim liburan karena masih di akhir musim gugur. So crowded gaes !

Ternyata oh ternyata, akhir musim gugur juga menjadi moment yang dinikmati warga Jepun. Daun untuk beberapa jenis pohon mulai berubah warna menjadi kuning, sebelum akhirnya meranggas di musim dingin. 

Ya, tidak semua daun tanaman berubah meranggas. Beberapa tanaman yang tahan di musim dingin tetap mempertahakan warna hijau atau ada juga daun  yang berwarna coklat kemerahan.

Masyaa Allah kombinasi warna yang cantik dan membuat mata tak ingi melepas pandangannya.


Sesampainya di stasiun Nagoya (shinkansen exit), kami dikejutkan lagi dengan situasi stasiun yang tidak beda jauh ramainya dari stasiun Tokyo yang merupakan kota terbesar dan tersibuk.

Melihat situasi ini kami sudah bisa memperkirakan kecil sekali kemungkinan untuk menyimpan koper di "coin locker" yang biasanya tersedia di berbagai tempat di stasiun besar. 

Setelah memastikan dengan mencoba melihat beberapa tempat locker, termasuk di basement Mall yang berdekatan dengan Stasiun Nagoya, kami akhirnya memutuskan untuk langsung ke tempat untuk menikmati makan siang dan ishoma, sambil menggeret koper 😆.

Aneh? Ga lah,  wong semua pengunjung Nagoya dari luar kota juga melakukan hal yang sama 😃. 

Akhirnya kami lanjut menaiki kereta subway ke lokasi tempat makan yaitu Bulan Bali Cafe. Baru saat itu kami mengalami antrian masuk kereta busway yang begitu padat, sampai-sampai harus melakukan 2 kali antrian karena di dalam kereta sudah padat. Untungnya lokasi stasiun yang terdekat dengan lokasi Cafe hanya melewati beberapa stasiun saja. Tibalah kami di stasiun Shinsakae-machi.

Di Nagoya hanya berkunjung ke dua lokasi, lokasi untuk istirahat-shalat-makan di Cafe Bulan Bali dan Nagoya Castle, karena sore hari nya kami langsung melanjutkan perjalanan ke Osaka dan menginap di sana.

Pelayanan di Cafe ini sangat ramah, ga heran karena pelayannya orang Bali asli yang sudah puluhan taun tinggal dan bekerja di Jepang. 

Kami pun dibantu oleh Bli tersebut saat berfoto di depan cafe, dan juga saat memanggil taksi dan menyampaikan tujuan kami ke Nagoya Castle menggunakan bahasa nihongo tentunya. Tentu saja kami lebih memilih menggunakan taksi karena alasan ada 2 koper dan tas besar yang kami bawa. Alhamdulillaah semuanya dimudahkan.


Kami memilih hanya mengunjungi Nagoya Castle sebagai tempat wisata di area ini, karena kami melihat lokasi wisata lainnya kurang menarik bagi kami, seperti musem  (anak bontot ga doyan juga ke museum), lego land tentu saja bukan lokasi yang cocok buat ibu kami disamping saya dan anak2 sudah pernah ke lokasi serupa di Johor, negri jiran, apalagi ke kebun binatang (di Indonesia lebih banyak satwa khasnya 😃).

Nagoya Castle merupakan Kastil atau istana kerajaan pertama di Jepang yang dinyatakan sebagai pusaka nasional, dan merupakan kastil terpenting di Jepang, karena memiliki sejarah penting di masa perang.

Melihat area kastil yang cukup luas kami sempat khawatir apakah akses jalan aman sambil membawa koper? Untungnya, kami sempat menyimak peta kawasan kastil yang terpampang di dekat trotoar. Mulai optimis karena di sana tersedia "Coin Locker" dan berharap ada yang kosong, karena kami lihat walau sangat ramai pengunjung yang datang, tapi kami melihat mereka tidak ada yang membawa koper seperti kami 😆.

Setelah membeli tiket masuk ke gerbang kawasan kastil, kami bergegas mendatangi lokasi "coin locker" yang berada di sebelah kanan setelah pintu gerbang. Alhamdulillaah masih ada coin locker ukuran besar yang tersedia dan cukup untuk menyimpan semua barang bawaan kami. Kami pun bisa santai menikmati kawasan kastil, didukung cuaca yang sangat cerah 🥰.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah 5 sore. Selesai berkeliling kastil, kami menggunakan taksi menuju stasiun Nagoya kembali, untuk memilih seat shinkansen dan  melanjutkan perjalanan ke Osaka.

Alhamdulillah sesampai di stasiun kami tidak perlu antri untuk menggunakan mesin pemesanan seat shinkansen dengan tujuan stasiun Shin Osaka.

Perjalanan hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu jam. Jarak hotel yang kami pesan hanya sekitar 400 meter dengan stasiun Shin Osaka.

Walau sudah hampir pukul enam, situasi saat itu sudah gelap, karena waktu maghrib di sana saat itu sekitar pukul 17. Sesampai di hotel sudah hampir waktu isya.

Proses check in hotel pun menjadi pengalaman tersendiri. Petugas receptionist hotel kami yakini bisa menggunakan bahasa Inggris walau tidak fasih, at least kami ga perlu pakai bahasa isyarat lah 😃. 

Proses checkin dilakukan dengan memindai semua passport kami bertiga. Tidak seperti di Indonesia yang biasanya cukup menyerahkan KTP pemesan kamar.

Untuk makan malam kami menyantap persediaan makanan yang kami bawa dari Tokyo, seperti onigiri, mie instant vegan di dalam cup, dan beberapa sachet minuman hangat seperti wedang jahe dan energen cereal.

Walau kamar cukup sempit, tetapi tidak mengganggu kesempatan beristirahat. Kami semua bisa tidur dengan nyenyak 😊.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR ISLAM DI USIA SETENGAH ABAD #3 : MENCETAK GENERASI PERADABAN DARI RUMAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim Kajian Halaqah Cinta Ustadz Ransi Al Indragiri Peradaban dimulai dari rumah, sesuai firman Allah di dalam Q.S. Al Jumuah ayat 2, bahwa Allah mengutus Rasul yang ummi (tidak bisa baca dan tidak bisa menulis) , ummi  juga berarti bahwa Rasul menyebarkan ajarannya di Madinah.  Karena masyarakat Madinah saat itu merupakan masyarakat yang tertinggal dibanding daerah lain seperti Mekkah, Yaman dll, dan tidak memiliki peradaban. Dan setelah Rasulullaah menyebarkan Islam di Madinah, akhirnya Madinah menjadi kota yang diperhitungkan, maju peradabannya ,dan jadi pusat peradaban Islam. Apa yang dilakukan Rasulullah di Madinah ? 1. Membangun Masjid sebagai pusat Ibadah,  pusat pendidikan, tempat silaturahim 2. Mempersaudarakan antara Kaum Ashar dengan Kaum Muhajirin 3. Membuat perjanjian dengan non muslim  Muncul hadits di Madinah : " Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam be...

Nihon Trip - 4 : Disiplin dan Tepat Waktu

  Jepang sejak lama dikenal akan budaya disiplin dan tepat waktu dalam segala hal. Hal ini sangat kami rasakan saat berada di sana, dan buat saya yang menjunjung tinggi kedisiplinan, hal ini menjadi hal yang menyenangkan untuk dinikmati karena merasakan kemudahan sebagai hasil dari kebiasaan tersebut. Ketepatan waktu bukan hanya pada  jadwal bis, kereta, shinkansen, tetapi juga termasuk di dalamnya jadwal buka tutup toko dan resto 😃. Untuk jadwal bis biasanya tersedia di standing board tempat kita naik, atau di papan informasi untuk halte  yang ada tempat berteduh (biasa dilengkapi kursi).  Antrian panjang menjadi pemandangan umum yang terlihat di sana. Antrian naik bis, naik kereta, naik taksi, pembelian atau isi ulang kartu kereta, pembayaran di kasir, penggunaan vending machine, kedai makanan (biasanya antrian panjang ditemukan saat pembukaan gerai produk makanan baru 😅)  bahkan saat pembelian popcorn semua dilakukan dengan tertib. Mungkin karena sudah terb...

Nihon Trip - 12 : Oleh-oleh

Membeli buah tangan itu buat saya adalah berbagi kebahagiaan yang saya rasakan saat berkunjung ke suatu tempat. Begitu juga saat berkunjung ke negeri sakura. Buat yang mau beli cemilan2 dalam jumlah banyak disarankan belanja di toko grosiran seperti Don Quijote yang cabangnya cukup banyak dan ada di beberapa kota. Kami mendatangi salah satu yang terbesar di area Shibuya : Mega Don Quijote. Di lokasi ini dijual berbagai macam barang. Namun untuk souvenir seperti magnet tempelan kulkas, kipas, dompet , sapu tangan harganya menurut saya lebih mahal dari barang yang dijual online dan jenisnya tidak banyak. Bagi turis yang berbelanja di atas 5500 yen akan dikenakan tax free asal menunjukan paspor untuk di scan di mesin yang ada di kasir. Harga barang yang tertera di rak sudah termasuk pajak. Lokasi pembayaran khusus tax free di Mega Don Quijote berada di lantai paling atas. Souvenir made in Japan asli harga memang mahal, tetapi kualitasnya tidak diragukan. Awalnya penasara melihat souvenir...